Minggu, 30 Januari 2011

Berhati hatilah bagi orang tua yang mempunyai anak puteri yang masih duduk di bangku SLTA, kami sarankan agar menjaganya dengan sebaik mungkin. Karena di jaman sekarang ini istilahnya sudah jaman gila… hehehhe
Hasan Abadi dari CV Orbit Nusantara selaku mitra Balitbang Kabupaten Malang mengatakan kepada wartawan bahwa dari 404 orang siswa yang kita jadikan sampel untuk penelitian ini, sebanyak 29 persen yang pernah melakukan hubungan sex pranikah atau sex bebas.Angka ini jelas Hasan, diperoleh dari penelitian terhadap berbagai siswa SLTA di 8 Kecamatan di Kabupaten Malang. “Hasil ini sudah kami presentasikan di hadapan 8 camat di ruang Karthanegara Pemkab Malang beberapa hari yang lalu,” akunya memberitahu.
Menurutnya, 8 camat itu adalah untuk kecamatan Kepanjen, Singosari, Turen, Lawang, Karangploso, Gondanglegi, Sumberpucung, serta Dau. “Adapun respondennya, lebih banyak berasal dari siswa SLTA yang ada di sekolah SLTA di wilayah Kepanjen,” aku Hasan. Hasan membeberkan, dari total 404 responden, yang menyatakan pernah melakukan sex pranikah, ada 116 responden atau 29 persen. Adapun responden (siswa) yang menyatakan tidak pernah melakukan sex pranikah ada 287 siswa atau 71 persen dari total responden.
“Dari 116 siswa pelaku sex bebeas itu, mereka mayoritas melakukan sex dengan pacarnya. Itu pengakuan para responden. Adapun siswa yang pernah melakukan sek pranikah, yang mengaku melakukan hubungan sex dengan orang lain atau bukan atas dasar hubungan pacaran sebanyak 21 persen,” jelasnya.
Responden yang mengaku berhubungan sex tidak dengan pacarnya, banyak mengaku karena diakibatkan karena faktor selingkuhan, faktor materi, serta hubungan suka sama suka tapi bukan pacar. Hasan juga membeberkan, dari jumlah 116 responden (29 persen) itu, yang melakukan sex pranikah mayoritas terdiri dari kaum perempuan. Yakni mencapai 65 persen.Dari para responden perempuan tersebut, banyak yang mengaku pernah akibat karena diperkosa hingga menimbulkan perilaku sex pranikahnya ketagihan dan dilakukan secara terus menerus, serta ada yang berpacaran dengan pria yang sudah bekerja atau pria yang masih kuliah (Mahasiswa).
Dari responden di 8 kecamatan itu, ditemukan, paling banyak para gadis yang terkena HIV/AIDS adalah Kecamatan Gondanglegi. Selama April 2010, sudah ada 120 orang siswa yang berasal dari Kecamatan Gondanglegi. “Para siswa di wilayah Kecamatan Gondanglegi itu, selain memiliki prilaku sex bebas, dengan memakai narkoba, juga sangat rentan terjadi penularan HIV/AIDS. Makanya banyak yang terkena HIV/AIDS,” ujar Hasan bernada serius menjelaskan. Dari mana para siswa atau responden mengetahui tentang sex? Dari hasil penelitian itu, responden mengaku, banyak memperoleh informasi tentang sex dari internet. “Kebanyakan mereka menonton video porno dari internet di berbagai warung internet yang sudah menjamur saat ini,” jelasnya.
Sementara, untuk pengetahuan HIV/AIDS, para responden (siswa) lebih banyak memperoleh dari media massa, baik cetak maupun elektronik. “Faktor mengentahui dari orang tua hanya 1 persen saja, tentang informasi sex dan HIV ini. Padahal peran orang tua amat penting dalam mendampingi atau memberikan pendidikan sex yang baik bagi anaknya,” keluh pria yang saat ini juga menjabat Sekretaris DPC Ansor Kabupaten Malang ini. Sementara itu, menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Malang, Adi Purwanto, pihaknya menawarkan, perlunya dibuat kurikulum lokal yang diajarkan di sekolah, mengenai pendidikan bahaya sex bebas dan bahaya HIV/AIDS.
“Pendidikan tersebut perlu diberikan kepada para siswa. Karena pendidikan sex dan HIV/AIDS itu, sangat penting dan saat ini sangat minim diperoleh siswa. Padahal, sangat penting bagi siswa untuk mengetahui bagaimana pendidikan sex dan bahaya HIV/AIDS itu,” jelasnya.
Adi mengakui, bahwa di zaman sekarang itu, pendidikan sex sangat tabu untuk dibiarakan. Padahal tidak demikian. Karena dianggap tabu, seringkali terjadi beban psikis untuk memberikan pendidikan sex kepada siswa. Manfaat siswa mengetahui bahaya sex bebas terang Adi, agar siswa mampu mencegah penularan HIV/AIDS. “Beberapa waktu lalu, saya sudah pernah berencana akan memasukkan mata pelajaran tentang pendidikan sex dan bahaya HIV/AIDS ke kurikulum SMA,” ujarnya. Namun, tambah Adi, sampai sekarang, rencana tersebut masih belum terealisai. Kedepan saya berharap, semoga kurikulum tentang bahaya sex dan HIV/AIDS itu bisa terealisasi agar para gadis harapan dan genarasi Indonesia itu bisa sadar akan bahaya sex bebas dan HIV/AIDS. Ini hal yang tragis bagi kita,” tegasnya.

Gejala-Gejala Pemakaian Narkoba Yang Berlebihan

1. Opiat (heroin, morfin, ganja)
-   perasaan senang dan bahagia
-   acuh tak acuh (apati)
-   malas bergerak
-   mengantuk
-   rasa mual
-   bicara cadel
-   pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)
-   gangguan perhatian/daya ingat
2. Ganja
-   rasa senang dan bahagia
-   santai dan lemah
-   acuh tak acuh
-   mata merah
-   nafsu makan meningkat
-   mulut kering
-   pengendalian diri kurang
-   sering menguap/ngantuk
-   kurang konsentrasi
-   depresi 
3. Amfetamin (shabu, ekstasi)
-   kewaspadaan meningkat
-   bergairah
-   rasa senang, bahagia
-   pupil mata melebar
-   denyut nadi dan tekanan darah meningkat
-   sukar tidur/ insomnia
-   hilang nafsu makan 
4. Kokain
-   denyut jantung cepat
-   agitasi psikomotor/gelisah
-   euforia/rasa gembira berlebihan
-   rasa harga diri meningkat
-   banyak bicara
-   kewaspadaan meningkat
-   kejang
-   pupil (manik mata) melebar
-   tekanan darah meningkat
-   berkeringat/rasa dingin
-   mual/muntah
-   mudah berkelahi
-   psikosis
-   perdarahan darah otak
-   penyumbatan pembuluh darah
-   nystagmus horisontal/mata bergerak tak terkendali
-   distonia (kekakuan otot leher) 
5. Alkohol
-   bicara cadel
-   jalan sempoyongan
-   wajah kemerahan
-   banyak bicara
-   mudah marah
-   gangguan pemusatan perhatian
-   nafas bau alkohol 
6. Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
-   bicara cadel
-   jalan sempoyongan
-   wajah kemerahan
-   banyak bicara
-   mudah marah
-   gangguan pemusatan perhatian
Tanda-Tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat adiktif
a. Fisik
-  berat badan turun drastis
-  mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
-  tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan
  
ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat 
  
bekas suntikan
-  buang air besar dan kecil kurang lancar
-  sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas
b. Emosi
-  sangat sensitif dan cepat bosan
-  bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang
-  emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar 
  
terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
-  nafsu makan tidak menentu
c. Perilaku
-  malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
-  menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
-  sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit 
  
dan pulang lewat tengah malam
-  suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan
  
barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga 
  
miliknya, banyak yang hilang
-  selalu kehabisan uang
-  waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang 
  
gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
-  takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit – karena itu mereka jadi malas mandi
-  sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala 
  
“putus zat”
-  sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, 
  
seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat
-  sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
-  mengalami jantung berdebar-debar
-  sering menguap
-  mengeluarkan air mata berlebihan
-  mengeluarkan keringat berlebihan
-  sering mengalami mimpi buruk
-  mengalami nyeri kepala
-  mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi

Kamis, 27 Januari 2011

Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut.

Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.

Penyakit Kaki Gajah umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Menurut info dari WHO, urutan negara yang terdapat penderita mengalami penyakit kaki gajah adalah Asia Selatan (India dan Bangladesh), Afrika, Pasifik dan Amerika. Belakangan banyak pula terjadi di negara Thailan dan Indonesia (Asia Tenggara).

  • Penularan Penyakit Kaki Gajah


  • Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

    Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat menular dengan sangat cepat.

  • Tanda dan Gejala Penyakit Kaki Gajah


  • Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia kanak-kanak, dimana dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya.


    Adapun gejala akut yang dapat terjadi antara lain :
    • Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat
    • Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
    • Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
    • Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah
    • Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)

    Sedangkan gejala kronis dari penyakit kaki gajah yaitu berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

  • Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Kaki Gajah


  • Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah, Sampai saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja (nocturnal periodicity).

    Selain itu, berbagai methode pemeriksaan juga dilakukan untuk mendiagnosa penyakit kaki gajah. Diantaranya ialah dengan system yang dikenal sebagai Penjaringan membran, Metode konsentrasi Knott dan Teknik pengendapan.

    Metode pemeriksaan yang lebih mendekati kearah diagnosa dan diakui oleh pihak WHO adalah dengan jalan pemeriksaan sistem "Tes kartu", Hal ini sangatlah sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva). Yaitu dengan cara mengambil sample darah sistem tusukan jari droplets diwaktu kapanpun, tidak harus dimalam hari.

  • Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah


  • Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi.

    Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat simtomatik.

    Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau
    dalam keadaan lemah.

    Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah membesar) karena tidak terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya memerlukan langkah lanjutan seperti tindakan operasi.

  • Pencegahan Penyakit Kaki Gajah


  • Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan warga sekitarnya.

    Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.


    Pelatihan Penanggulangan Penyakit Kusta (P3K) yang saya ikuti pada 10-12 Juli kemarin banyak sekali memberikan pencerahan tentang penyakit kusta. Pelatihan ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Kusta Indonesia (YKI) dan gerakan Pramuka IAIN Sunan Ampel Surabaya yang dilaksanakan di Gedung Search Acces Center (SAC) Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya selama 2 hari, dan pada hari ke tiga dilanjutkan dengan terjun langsung ke Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Mojokerto sekaligus bersilaturahmi ke penduduk Sumberglagah yang sebagian besar adalah mantan penderita kusta dari berbagai daerah.
    Selama ini masyarakat luas beranggapan bahwa kusta adalah penyakit yang mudah menular. Tidak sedikit  kasus orang yang dibuang oleh keluarganya karena menderita kusta, apalagi jika telah mengalami kecacatan karena keterlambatan penemuan penyakit maupun pengobatan.
    Indonesia adalah Negara terbanyak ke tiga penderita kustanya setelah Brazil dan India. Dan Jawa Timur adalah daerah terbanyak penderita kustanya di Indonesia. Berikut peta penyebarannya pada tahun 2008 :
    Picture1Kusta adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae. Bakteri ini akan sangat mudah berkembang di lingkungan yang tidak bersih dan sanitasi yang kurang baik. Bakteri ini menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan lain pada  manusia sehingga terjadi semacam penebalan pada kulit dan bisa menyebabkan kecacatan. Jenis penyakit ini ada dua macam yaitu kusta basah (Pausibasiler) dan kusta Kering (Multybasiler). Dua jenis ini disebabkan oleh bakteri yang sama. Tinggi rendanya kekebalan tubuh manusialah yang menentukan seseorang tersebut terserang kusta jenis apa. Seseorang yang terkena kusta kering bisa meningkat menjadi kusta basah apabila daya tahan tubuhnya semakin melemah dan tidak segera dilakukan pengobatan.
    Gejala awal penyakit kusta yaitu ditandai dengan adanya bercak putih seperti panu atau bercak merah seperti kadas pada kulit yang tidak gatal, tidak mengeluarkan keringat, tidak ditumbuhi bulu, dan mati rasa atau kurang rasa bila disentuh.

    Bercak putih seperti panu yang tidak gatal dan mati rasa
    Bercak putih seperti panu yang tidak gatal dan mati rasa

    Bercak putih seperti kadas yang tidak gatal dan mati rasa
    Bercak putih seperti kadas yang tidak gatal dan mati rasa
    Cara penularan penyakit ini yaitu melalui kontak erat dalam waktu yang lama baik melalui kulit ataupun saluran pernapasan. Dan sumber penularannya adalah dari penderita kusta basah yang tidak atau belum diobati, artinya jika penderita telah atau sedang menjalani proses pengobatan maka sangat kecil kemungkinan kusta bisa menular. Di sisi lain kusta memang tidak mudah menular karena 95% dari sebuah populasi mempunyai kekebalan alamiah terhadap penyakit kusta sehingga tidak dapat tertular, 3% dari populasi bisa tertular tetapi bisa sembuh sendiri dengan menjaga kebersihan dan kesehatan badan maupun lingkungan, dan hanya 2% saja yang tertular dan memerlukan pengobatan.

    Contoh obat untuk kusta kering dan basah
    Contoh obat untuk kusta kering dan basah
    Pengobatan untuk kusta kering berlangsung selama 6 bulan dengan rajin mengkonsumsi obat selama 28 hari setiap bulannya. Sedangkan untuk kusta basah dilakukan selama 12 bulan. Tujuan dari pengobatan adalah memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penderita, dan mencegah kecacatan baru atau menjadi lebih parahnya kecacatan yang telah ada. Keberhasilan pengobatan tergantung pada penemuan penyakit dan pengobatan secara dini, kepatuhan penderita untuk berobat secara teratur, dukungan keluarga dan masyarakat sekitar, serta keterampilan petugas dalam upaya pencegahan kecacatan
    Dari  penjelasan tersebut ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi bahwa kusta bukan penyakit keturunan apalagi kutukan seperti anggapan masyarakat awam selama ini. Kusta tidak menular bila dilakukan pengobatan dan obat bisa didapat di Puskesmas terdekat tanpa dipungut biaya.
    Photo2 lain :
    Kanker serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).
    Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
    2. Sebeberapa bahaya penyakit kanker serviks ini?
    kanker-serviks
    klik untuk zoom
    Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks.
    Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.
    3. Apa sebenarnya penyebab kanker serviks ini?
    Pertama, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal.Akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
    Kedua, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.
    4. Bagaimana cara penularan kanker serviks ?
    Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.
    Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit. Henah lo, mangkanya jangan jajan yaa.
    5. Yuk kenali apa saja gejala kanker serviks ini?
    Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut.
    Gejala kanker serviks tingkat lanjut :
    • munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding).
    • keputihan yang berlebihan dan tidak normal.
    • perdarahan di luar siklus menstruasi.
    • penurunan berat badan drastis.
    • Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung
    • juga hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.
    6. Berapa lama masa pertumbuhan kanker serviks ini?
    Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan) penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya.
    Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker serviks.
    7. Benarkah perokok berisiko terjangkit kanker serviks?
    Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001.
    Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta “racun” lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. “Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang,” ujarnya.